CATATAN 28 HARI MENJELANG NATAL 2020
Catatan 28 Hari Menjelang Natal 2020
Selasa, 24 Nopember pukul 13.00 wib, Istriku Evi Marlina membawaku ke rumah sakit, saat itu aku merasa ulu hatiku terasa sakit efek dari naiknya asam lambung yg membuatku tak berdaya.π€
Pada pukul 14.30 wib, sebelum dirawat di Rumah Sakit aku menjalani Ravid test.
Pukul 15.00 wib, hasil Ravid testku dinyatakan reaktif & aku langsung dievakuasi ke Ruang Isolasi. Sedang Istriku yg tidak menjalani Ravid test, oleh pihak RS malah tidak diizinkan pulang bahkan diinapkan satu kamar dengan aku.π
Rabu, 25 Nopember aku menjalani test Swab, tapi istriku tidak, padahal sudah 1 malaman kami diinapkan sekamar.π€
Kamis, 26 Nopember, tepat hari ulang tahun anak sulungku Nuel, pada pukul 22.30 wib hasil Swab tesku dinyatakan Positif Covid-19 NP = 31,81 dan aku pun langsung dipisahkan dengan istriku, aku dievakuasi lagi ke ruang Isolasi penanganan khusus gejala covid-19. Sementara aku samasekali TIDAK sedang demam, sesak nafas, batuk, flu, mual/muntah apalagi kehilangan rasa & penciuman.π’
Jum'at, 27 Nopember istriku menjalani test Swab, sementara di rumah kami, ketiga orang anakku sedang dipanikkan dengan datangnya tim gugus Covid-19 dari kelurahan untuk menyemprotkan disinfektan ke seluruh isi & halaman rumah kami.
Ketiga anakku (2 cowok remajaku Nuel & Evan serta 1 gadis kecilku Cia) terpaksa terkarantina dirumah tanpa didampingi keluarga atau siapapun kecuali TUHAN.π’
Sabtu, 28 Nopember pukul 23.00 wib aku dipindahkan lagi ke ruang isolasi perawatan & pemulihan pasien covid-19.π·
Minggu, 29 Nopember pukul 22.30 wib hasil Swab istriku dinyatakan Positif Covid-19 OTG NP = 24.45.π
Senin, 30 Nopember atas permintaanku, istriku dipindahkan & dirawat bersebelahan dengan ruang isolasiku.
Rabu, 2 Desember pukul 08.15 wib aku menjalani test Swab ke-2.
Pada pukul 11.45 ketiga anakku menjalani Swab di Puskesmas.π’
Jum'at, 4 Desember pukul 09.30 wib, istriku menjalani Swab ke-2
Minggu, 6 Desember hasil Swabku yg ke-2 dinyatakan masih Positif dengan NP = 35,84 dan hasil istri juga masih Positif NP = 20,40π
Senin, 7 Desember pukul 19.30 wib, untuk ke-3 kalinya selama aku di RS, abang yg juga sahabat dekatku Horasman Sidauruk lagi-lagi memberi support padaku melalui telepon.
Rabu, 9 Desember pukul 08.30 aku menjalani Swab yg ke-3
Kamis, 10 Desember pukul 08.00 wib puji TUHAN hasil Swabku yg ke-3 dinyatakan NEGATIF NP = 40.
Pukul 19.30 wib aku diizinkan pulang kerumah dan Isolasi Mandiri, sementara istriku masih harus terpaksa kutinggalkan di RS karna masih harus menjalani Swab ke-3.
Pukul 20.00 wib, aku mendapat pesan terusan WA dari kepala Puskesmas bahwa hasil Swab dari ketiga anakku puji TUHAN dinyatakan NEGATIF.π
Jum'at, 11 Desember pukul 09.30 sepulang dari laundry, aku sengaja lewat & menghentikan mobilku di depan rumah abangku Horasman Sidauruk, menyapa akkang (kaka ipar) yg sedang membersihkan halaman rumahnya. Saat itu aku baru tahu bahwa ternyata si abang sedang berbaring di kamar karna sakit asam lambung sejak 8 Desember yg lalu.
Mungkin karna mendengar suaraku, dengan wajah yg pucat beliau keluar dari rumah dan menyapaku.
Terlihat rasa gembira diwajahnya saat melihatkuπ
tapi aku enggan untuk turun menemuinya, karna statusku juga masih pasien yg sedang menjalani isolasi mandiri di rumah. Aku pun hanya menanyainya sekedar dan menyarankannya istirahat dulu.π’
Pada pukul 10.30 wib, aku mendapat informasi dari RS bahwa istriku sedang menjalani Swab yg ke-3
Sabtu, 12 Desember pukul 17.00 wib aku mendapat informasi dari RS bahwa hasil Swab istriku sudah NEGATIF NP = 40 dan diizinkan pulang.π
Minggu, 13 Desember pukul 10.30 wib, puji TUHAN kami sekeluarga bisa berkumpul kembali.
Selasa, 15 Desember Pukul 09.30 wib sehabis jalan pagi aku singgah ke rumah abangku Horasman Sidauruk, aku ingin melihat kondisinya pagi itu.
Kami duduk & ngobrol diteras rumahnya sambil minum beberapa gelas air putih hangat.
Seperti biasanya, saat2 begini kami suka membahas tentang apa saja, tapi karna suasananya berhubungan dengan kondisi kesehatan, kami pun berbagi cerita tentang pengalamanku selama di RS dan keluhannya penyakit asam lambung yg belum pernah dia alami sebelumnya.
Dari penuturannya aku akhirnya tahu bahwa selama aku di RS, dia benar2 sangat mencemaskan kami, dan ternyata dia juga sampai membayangkan bagaimana bila yg terjadi padaku juga menimpa dirinya.
Saat itu ia benar2 terlihat merasa sangat cemas, aku pun jadi khawatir kalau rasa cemasnya yg berlebihan itu akan semakin memperburuk kondisinya.
Mengalihkan topik yg bikin suasana semakin serius, aku pun beralih ke topik yg kuanggap bisa mensupportnya, dan aku berusaha meyakinkannya agar tidak menjadi fobia Rumah Sakit karna takut Covid.
Selasa, 24 Nopember pukul 13.00 wib, Istriku Evi Marlina membawaku ke rumah sakit, saat itu aku merasa ulu hatiku terasa sakit efek dari naiknya asam lambung yg membuatku tak berdaya.π€
Pada pukul 14.30 wib, sebelum dirawat di Rumah Sakit aku menjalani Ravid test.
Pukul 15.00 wib, hasil Ravid testku dinyatakan reaktif & aku langsung dievakuasi ke Ruang Isolasi. Sedang Istriku yg tidak menjalani Ravid test, oleh pihak RS malah tidak diizinkan pulang bahkan diinapkan satu kamar dengan aku.π
Rabu, 25 Nopember aku menjalani test Swab, tapi istriku tidak, padahal sudah 1 malaman kami diinapkan sekamar.π€
Kamis, 26 Nopember, tepat hari ulang tahun anak sulungku Nuel, pada pukul 22.30 wib hasil Swab tesku dinyatakan Positif Covid-19 NP = 31,81 dan aku pun langsung dipisahkan dengan istriku, aku dievakuasi lagi ke ruang Isolasi penanganan khusus gejala covid-19. Sementara aku samasekali TIDAK sedang demam, sesak nafas, batuk, flu, mual/muntah apalagi kehilangan rasa & penciuman.π’
Jum'at, 27 Nopember istriku menjalani test Swab, sementara di rumah kami, ketiga orang anakku sedang dipanikkan dengan datangnya tim gugus Covid-19 dari kelurahan untuk menyemprotkan disinfektan ke seluruh isi & halaman rumah kami.
Ketiga anakku (2 cowok remajaku Nuel & Evan serta 1 gadis kecilku Cia) terpaksa terkarantina dirumah tanpa didampingi keluarga atau siapapun kecuali TUHAN.π’
Sabtu, 28 Nopember pukul 23.00 wib aku dipindahkan lagi ke ruang isolasi perawatan & pemulihan pasien covid-19.π·
Minggu, 29 Nopember pukul 22.30 wib hasil Swab istriku dinyatakan Positif Covid-19 OTG NP = 24.45.π
Senin, 30 Nopember atas permintaanku, istriku dipindahkan & dirawat bersebelahan dengan ruang isolasiku.
Rabu, 2 Desember pukul 08.15 wib aku menjalani test Swab ke-2.
Pada pukul 11.45 ketiga anakku menjalani Swab di Puskesmas.π’
Jum'at, 4 Desember pukul 09.30 wib, istriku menjalani Swab ke-2
Minggu, 6 Desember hasil Swabku yg ke-2 dinyatakan masih Positif dengan NP = 35,84 dan hasil istri juga masih Positif NP = 20,40π
Senin, 7 Desember pukul 19.30 wib, untuk ke-3 kalinya selama aku di RS, abang yg juga sahabat dekatku Horasman Sidauruk lagi-lagi memberi support padaku melalui telepon.
Rabu, 9 Desember pukul 08.30 aku menjalani Swab yg ke-3
Kamis, 10 Desember pukul 08.00 wib puji TUHAN hasil Swabku yg ke-3 dinyatakan NEGATIF NP = 40.
Pukul 19.30 wib aku diizinkan pulang kerumah dan Isolasi Mandiri, sementara istriku masih harus terpaksa kutinggalkan di RS karna masih harus menjalani Swab ke-3.
Pukul 20.00 wib, aku mendapat pesan terusan WA dari kepala Puskesmas bahwa hasil Swab dari ketiga anakku puji TUHAN dinyatakan NEGATIF.π
Jum'at, 11 Desember pukul 09.30 sepulang dari laundry, aku sengaja lewat & menghentikan mobilku di depan rumah abangku Horasman Sidauruk, menyapa akkang (kaka ipar) yg sedang membersihkan halaman rumahnya. Saat itu aku baru tahu bahwa ternyata si abang sedang berbaring di kamar karna sakit asam lambung sejak 8 Desember yg lalu.
Mungkin karna mendengar suaraku, dengan wajah yg pucat beliau keluar dari rumah dan menyapaku.
Terlihat rasa gembira diwajahnya saat melihatkuπ
tapi aku enggan untuk turun menemuinya, karna statusku juga masih pasien yg sedang menjalani isolasi mandiri di rumah. Aku pun hanya menanyainya sekedar dan menyarankannya istirahat dulu.π’
Pada pukul 10.30 wib, aku mendapat informasi dari RS bahwa istriku sedang menjalani Swab yg ke-3
Sabtu, 12 Desember pukul 17.00 wib aku mendapat informasi dari RS bahwa hasil Swab istriku sudah NEGATIF NP = 40 dan diizinkan pulang.π
Minggu, 13 Desember pukul 10.30 wib, puji TUHAN kami sekeluarga bisa berkumpul kembali.
Selasa, 15 Desember Pukul 09.30 wib sehabis jalan pagi aku singgah ke rumah abangku Horasman Sidauruk, aku ingin melihat kondisinya pagi itu.
Kami duduk & ngobrol diteras rumahnya sambil minum beberapa gelas air putih hangat.
Seperti biasanya, saat2 begini kami suka membahas tentang apa saja, tapi karna suasananya berhubungan dengan kondisi kesehatan, kami pun berbagi cerita tentang pengalamanku selama di RS dan keluhannya penyakit asam lambung yg belum pernah dia alami sebelumnya.
Dari penuturannya aku akhirnya tahu bahwa selama aku di RS, dia benar2 sangat mencemaskan kami, dan ternyata dia juga sampai membayangkan bagaimana bila yg terjadi padaku juga menimpa dirinya.
Saat itu ia benar2 terlihat merasa sangat cemas, aku pun jadi khawatir kalau rasa cemasnya yg berlebihan itu akan semakin memperburuk kondisinya.
Mengalihkan topik yg bikin suasana semakin serius, aku pun beralih ke topik yg kuanggap bisa mensupportnya, dan aku berusaha meyakinkannya agar tidak menjadi fobia Rumah Sakit karna takut Covid.
Aku berharap usahaku bisa mengurangi kecemasannya, sesekali kami saling melucu dan tertawa.π’
Kamis, 17 Desember pukul 07.30 wib aku melihat abangku & anak bungsunya Bernances sedang berolahraga di lapangan futsal depan rumahku, lalu aku mengajak anak2ku turun ke lapangan untuk olahraga bersama.
Saat kami berjalan keliling lapangan, abangku terlihat sangat mudah kelelahan dan pandangannya pun terlihat kosong.π€
Selesai olahraga pagi & sampai di rumah, aku masih mencemaskan keadaannya.
Karna hari itu aku memang berencana akan memeriksakan diri ke dokter spesialis dalam, sebelum menghubungi klinik praktek dokter untuk daftarkan nomor antrian, Aku terlebih dahulu menelpon dan mengajak abangku agar ikut aku ke dokter, tetapi karna saat itu ia bilang bahwa kondisinya sudah membaik, akhirnya ia tidak jadi ikut aku ke dokter.
Dan aku pun merasa lega karna besoknya, pada hari Jum'at 18 Desember pagi, abangku & Wahyu anak sulungnya sudah berangkat mencari nafkah.
Senin, 21 Desember pukul 06.15 wib tiba2 dari luar rumahku terdengar suara anak2 abangku memanggil lalu memberitahu kalau bapaknya sedang pingsan.π
Aku langsung panik, segera kuhidupkan mesin mobil & langsung menuju rumah abangku.
Aku melihatnya terbaring terlentang tak sadarkan diri diatas tikar ruang keluarga.
Segera kuraba leher dan kupegang tangannya yg sangat dingin itu, aku semakin panik dan mengajak anak2 untuk membantu mengangkatnya ke dalam mobil.
Langsung kupacu laju mobil menuju RS terdekat.
Pukul 06.30 wib kami tiba rumah sakit Mitra dan langsung membawanya ke ruang UGD.
Rasa cemas, kacau dan panik berkecamuk ketika petugas RS sakit masih berusaha memberikan pertolongan.
Beberapa menit kemudian, pihak RS memanggilku dan menyatakan bahwa abangku sudah tidak tertolong lagi.π
Karna tidak percaya begitu saja, aku pun langsung mendekati lalu memeluk kepala abangku yg terkulai, dan sesekali kutampar pipinya sambil berteriak memanggil berusaha membangunkannya.π
Setelah menyadari bahwa usahaku pun sia2, aku hanya bisa menangis sejadi-jadinyaπ karna memang aku tidak tau harus berbuat apa2 lagi.
Aku semakin kalut melihat & mendengar anak sulung abangku Wahyu yg masih remaja itu menagisi kepergian bapaknyaπ.
Ketika itu kami sadar kalau tak satu pun diantara kami yg membawa HP ke RS, pada Pukul 07.05 wib melalui telpon RS Mitrw aku memberitahukan kabar duka itu pada istriku.
Pukul 07.15 wib aku pulang ke rumah agar bisa menghubungi beberapa keluarga untuk mengabarkan berita dukaπ«
Pukul 07.30 wib aku kembali ke RS untuk mengurus kepulangan jenazah abangku ke rumahnya.
Pukul 08.00 wib jenazah abangku tiba di rumahnya.π
Selasa, 22 Desember pukul 13.15 wib ambulance yg mengangkut jenazah abangku berangkat dari Jambi menuju kampung halamannya di Simantin tiga.π
Rabu, 23 Desember pukul 17.45 wib jenazah abangku tiba di kampung halamannya Simantin tiga.
Pukul 18.30 wib acara pemakaman dilaksanakan.π
Catatan 28 hari menjelang Natal 2020 ini akan mengingatkanku tentang kemelut jiwa yg memaksaku pasrah.
Pasrah karna penyakit asam lambung yg menyebabkan aku terpaksa dirawat di Rumah Sakit yg seumur-umur belum pernah kualami.
Lalu pasrah karna di Rumah Sakit pula aku & istriku dinyatakan terpapar Covid-19 yg menyebabkan kami terpaksa terisolasi selama 16 hari.
Pasrah karna penyakit asam lambung juga yg merenggut nyawa abangku Horasman Sidauruk hingga membuat kami terpaksa harus rela melepas kepergiannya untuk selamanya.
Dibalik kemelut yg sudah berlalu itu, dan dalam suasana perayaan Natal yg penuh sukacita ini, semoga tangan pengasihan TUHAN menolong kita terlepas dari ancaman penyakit dan mengubah rasa duka menjadi sukacita serta mengubah hidup menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Selamat hari Natal 25 Desember 2020
Selamat tinggal masa kelam
Selamat jalan Abangku Horasman Sidauruk
Kamis, 17 Desember pukul 07.30 wib aku melihat abangku & anak bungsunya Bernances sedang berolahraga di lapangan futsal depan rumahku, lalu aku mengajak anak2ku turun ke lapangan untuk olahraga bersama.
Saat kami berjalan keliling lapangan, abangku terlihat sangat mudah kelelahan dan pandangannya pun terlihat kosong.π€
Selesai olahraga pagi & sampai di rumah, aku masih mencemaskan keadaannya.
Karna hari itu aku memang berencana akan memeriksakan diri ke dokter spesialis dalam, sebelum menghubungi klinik praktek dokter untuk daftarkan nomor antrian, Aku terlebih dahulu menelpon dan mengajak abangku agar ikut aku ke dokter, tetapi karna saat itu ia bilang bahwa kondisinya sudah membaik, akhirnya ia tidak jadi ikut aku ke dokter.
Dan aku pun merasa lega karna besoknya, pada hari Jum'at 18 Desember pagi, abangku & Wahyu anak sulungnya sudah berangkat mencari nafkah.
Senin, 21 Desember pukul 06.15 wib tiba2 dari luar rumahku terdengar suara anak2 abangku memanggil lalu memberitahu kalau bapaknya sedang pingsan.π
Aku langsung panik, segera kuhidupkan mesin mobil & langsung menuju rumah abangku.
Aku melihatnya terbaring terlentang tak sadarkan diri diatas tikar ruang keluarga.
Segera kuraba leher dan kupegang tangannya yg sangat dingin itu, aku semakin panik dan mengajak anak2 untuk membantu mengangkatnya ke dalam mobil.
Langsung kupacu laju mobil menuju RS terdekat.
Pukul 06.30 wib kami tiba rumah sakit Mitra dan langsung membawanya ke ruang UGD.
Rasa cemas, kacau dan panik berkecamuk ketika petugas RS sakit masih berusaha memberikan pertolongan.
Beberapa menit kemudian, pihak RS memanggilku dan menyatakan bahwa abangku sudah tidak tertolong lagi.π
Karna tidak percaya begitu saja, aku pun langsung mendekati lalu memeluk kepala abangku yg terkulai, dan sesekali kutampar pipinya sambil berteriak memanggil berusaha membangunkannya.π
Setelah menyadari bahwa usahaku pun sia2, aku hanya bisa menangis sejadi-jadinyaπ karna memang aku tidak tau harus berbuat apa2 lagi.
Aku semakin kalut melihat & mendengar anak sulung abangku Wahyu yg masih remaja itu menagisi kepergian bapaknyaπ.
Ketika itu kami sadar kalau tak satu pun diantara kami yg membawa HP ke RS, pada Pukul 07.05 wib melalui telpon RS Mitrw aku memberitahukan kabar duka itu pada istriku.
Pukul 07.15 wib aku pulang ke rumah agar bisa menghubungi beberapa keluarga untuk mengabarkan berita dukaπ«
Pukul 07.30 wib aku kembali ke RS untuk mengurus kepulangan jenazah abangku ke rumahnya.
Pukul 08.00 wib jenazah abangku tiba di rumahnya.π
Selasa, 22 Desember pukul 13.15 wib ambulance yg mengangkut jenazah abangku berangkat dari Jambi menuju kampung halamannya di Simantin tiga.π
Rabu, 23 Desember pukul 17.45 wib jenazah abangku tiba di kampung halamannya Simantin tiga.
Pukul 18.30 wib acara pemakaman dilaksanakan.π
Catatan 28 hari menjelang Natal 2020 ini akan mengingatkanku tentang kemelut jiwa yg memaksaku pasrah.
Pasrah karna penyakit asam lambung yg menyebabkan aku terpaksa dirawat di Rumah Sakit yg seumur-umur belum pernah kualami.
Lalu pasrah karna di Rumah Sakit pula aku & istriku dinyatakan terpapar Covid-19 yg menyebabkan kami terpaksa terisolasi selama 16 hari.
Pasrah karna penyakit asam lambung juga yg merenggut nyawa abangku Horasman Sidauruk hingga membuat kami terpaksa harus rela melepas kepergiannya untuk selamanya.
Dibalik kemelut yg sudah berlalu itu, dan dalam suasana perayaan Natal yg penuh sukacita ini, semoga tangan pengasihan TUHAN menolong kita terlepas dari ancaman penyakit dan mengubah rasa duka menjadi sukacita serta mengubah hidup menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Selamat hari Natal 25 Desember 2020
Selamat tinggal masa kelam
Selamat jalan Abangku Horasman Sidauruk
Komentar
Posting Komentar