Tak Kenal Maka Tak Fokus

Lagi jalan2 di tengah kota Muarobungo diselah perjalanan dinas keluar kota seminggu yg lalu. Disebuah Caffe yg brnama Primkopad km singgah sejenak utk menikmati makanan2 ringan dan minuman aneka jus.

Kami mengambil posisi duduk di meja 7 yg memanjang cukup utk km ber 5.

Di sebelah meja km ada 2 org laki2 kurg lbih seusiaku sdg asik ngobrol. Satu brambut gondrong dan satunya lg cepak.
Dr bahasanya, aku yakin pasti ini halak hita-ans.

Wkt aku mngambil posisi duduk tdk jauh dr mrk, keduanya sempat senyum ramah.
Dalam hatiku, kedua batak ini sangar tp ramah jg.

"Pesan apa kita pak Dauruk," tanya salah satu dr kami.

"Saya jus Jambu aja pak, makannya gak usah," jawabku.

"Emang di Sidamanik byk jambu makanya pak Dauruk taunya jambu aja," kata teman lainnya bercanda.

Saat km trtawa, aku melihat org disebelahku turut senyum dgn candaan km, dan trlihat sprt org yg penasaran.

Laki2 cepak itu kmdian menggeser sedikit posisi duduknya mendekat kearahku.

"Marga Sidauruk do lae?" Tanyanya agak berbisik.
"Bah ido lae," jawabku sambil mengulurkan tangan menyalamnya.

"Ai marga aha lae?" Tanyaku lg.

"Siringo-ringo lae, na par Sidamanik do lae?" Tanyanya lg
"Ido lae, ai boa lae...adong na ditanda lakkam disi?"
"Adong lae, dongan kuliahku di UMA. Si Sahala Marga Sidauruk, namboru i boru Situmorang," katanya menjelaskan.

Sontak aku merasa senang bercampur sedih saat dia menyebut nama abangku itu.

"Abangku do i lae," jawabku dgn nada rendah.

"Bah, ido? Horas ma laeku," sambutnya smbil menyodorkan tangannya kembali menyalam aku.

Nunga di dia abangmu i lae, nunga leleng dang jumpang hami," tanyanya penasaran.

Aku menceritakan ttg almarhum abgku, keadaan klrgnya dan hal yg brkaitan dgn aku. Begitulah selanjutnya km saling bercerita & makin akrab.

Mgkin sngkin seriusnya atau mgkin sdh rada2 hang, kadang ada pembicaraan2 yg berulang dan menjadi lucu.

Ketika kutanya pkrjaannya dia slalu tdk tegas tentang pekerjaan yg sbnarnya, stlah dua kali kutanya dia seolah mengabaikan dan slalu mengalihkan pembicaraaan ke partaromboan marga. Ttng ama namartinohon, namboru nitulangnya tubu ni inangna na paduahon blabla...

Mgkin bukan hnya aku, temannya yg gondrong yg diperknalkannya marga Sinaga itu jg sdh smpe n'ek mendengarnya.

Sesekali aku mengalihkan pandanganku mengurangi kejenuhanku. Krn mmg aku gak fokus dgn runut ceritanya.
Gak lama setelah diam sejenak, lae Ringo kembali menanyaiku yg menurutku jd lucu.

"Jadi abangmu kandung do Lae Sahala manang tubuni amagudana?" Tanyanya lg tiba2.

Heran jg aku knp dia balik bertanya lg sprti tdk yakin. Tp aku brusaha agar suasananya rada humor, aku pun ingin menjwabnya dgn gaya tarombo yg sdh panjang lebar dijelaskannya, selain itu aku jg ingin tau apakah dia fokus dgn penjelasanku.

"songonon do lae, omak ni bang Sahala on muli ma tu bapakku, jd dung ditubuhon ibana parjolo, dungi ala naung mardongan saripeon omak na dohot bapakku ditubuhon omak na i ma au," jelasku.
("Begini lae, ibu dr bang Sahala ini menikah dgn ayahku, jd setelah dia dilahirkan, kemudian oleh krn ibunya sdh istri ayahku maka ibunya jg melahirkan aku")

Mendengar penjelasanku, Lae Ringo mengangguk-angguk smbil menyedot pipet minuman digelasnya. 
Aku melirik lae Sinaga yg trsenyum mendengar penjelasanku.

"Ooo...ido hape, hirippu na kandung," jawabnya yg gak kuduga.
("Ooo...begitu, kirain saudara kandung")

Tiba2 tawa lae Sinaga meledak keras, ngakak sambil acungkan jempol kearahku.

"Ha..ha..ha...mauf ma ho, ima alani na pajago hu ho na martarombo i," teriaknya smbil menepuk bahu lae Ringo.

Kawan2ku yg gak nyimak penjelasanku jg heran dan senyum melihat kami.

Setelah lae Sinaga mengulang dan menjelaskan kmbali, barulah dia ikut tertawa, sadar kl dia sdg disloroi.

"Bah, dang husangka na pargait lae bah," katanya sambil tertawa lg.

Gak lama setelah itu km pun saling berpisah.
Tp sblum berpisah dia smpat berbisik

"Teroris ni teroris do hami lae," bisiknya.
Tp aku tetap tdk tau apa mksudnya.

Begitulah, byk org yg hnya mau didengar apa yg diceritakannya tp tdk fokus dgn apa yg diceritakan org lain kpdnya.

Muarobungo, Nopember 2017

Komentar